Jumat, 07 Januari 2011

PSIKOLOGI BELAJAR : PRINSIP-PRINSIP BELAJAR DAN ASAS PEMBELAJARAN


PRINSIP - PRINSIP BELAJAR DAN ASAS PEMBELAJARAN

Salah satu tugas guru adalah mengajar. Dalam kegiatan mengajar ini tentu saja tidak dapat dilakukan sembarangan , tetapi harus menggunakan teori-teori dan prinsip-prinsip belajar tertentu agar bertindak secara tepat. Oleh karenanya, sebagai calon guru perlu mempeajari teori dan prinsip belajar yang dapat membmbing aktivitas guru dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

            Dalam perencanaan pembelajaran, prinsip-prinsip belajar dapat mengungkap batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran, pengetahuan tentang teori dan prinsip-prinsip dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat. Guru dapat terhindar dari tindakan-tindakan yang kelihatannya baik tetap nyatanya tidak berhasil menigkatkan proses belajar siswa. Selain itu dengan teori dan prinsip-prinsip belajar ia memiliki dan mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar.

A. Prinsip-Prinsip Belajar

            Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajarnya. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berperpengalaman,pengulangan,tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.

1. Perhatian Dan Motivasi

            Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori kegiatan belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadinya belajar (Gage dan Berliner, 1984: 335). Perhatian terhadap pembelajaran akan timbul apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.
            Disamping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil (Gage dan Barliner, 1984: 372). “Motivation is the concept we use when we describe the force action on or within an organism to intiate and direct behavior” demikian menurut H.L. Petri (Petri, Herbert L, 1986: 3). Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Sebagai alat motivasi merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan.

            Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Karenanya ,bahan-bahan pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

            Sikap siswa, seperti halnya motif menimbulkan dan mengarahkan aktivitasnya. Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain, dari guru, dari orang tua, teman, dan sebagainya. Motivasi Intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Motivasi ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyertanya.

2. Keaktifan

            Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif . Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Jhon Dewey misalnya mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri , maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sebagai pembimbing dan pengarah.(Jhon Dewey 1916, dalam Davies , 1937; 31).

            Menurut teori kognitif, belajar menunjukan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa yang mengolah informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya tanpa mengadakan transformasi. (Gage and Berliner, 1984: 267). Thomdike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum “law of exercise” yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. “Manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu, sosial” (Mc Keachie, 1976: 230 dari Gredler MEB terjemahan Munandir, 1991: 105).
3. Keterlibatan Langsung/Berpengalaman

            Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggunjawab terhadap hasilnya. Pentingnya keterlibatan langsung dalam dikemukakan oleh Jhon Dewey dengan “learning by doing”-nya . Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung.

            Keterlibatan siswa dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik semata, namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan ,dalam penghayatan dan internalisasi dalam pembentukkan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.

4. Pengulangan

            Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan barangkali yang paling tua adalah yang dikemukakan oleh teori Psikologi Daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berfikir dsb. Teori lain menekankan prinsip pengulangan adalah teori asosiasi atau koneksionisme dengan tokohnya yang terkenal Thomdike. Berangkat dari salah satu hukumnya “Law of exercise” ia mengemukakan bahwa belajar adalah pebentukan hubungan antara stimulus dan respons dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respons benar.

Kalau pada koneksionisme belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respons maka pada psikologi conditioning respons akan timbul bukan karena saja oleh stimulus,tetapi oleh stimlus yang dikondisikan. Menurut teori ini perilaku individu dapat dikondisikan dan belajar merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu.

5. Tantangan

            Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai , tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar maka timbullah motif untuk mengatsi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Agar pada anak timbul motif untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya.

            Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk menemukan konsep-konsep ,prinsip-prinsip, dan generalisasi akan menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi tersebut. Penggunaan metode eksperien, inkuiri, diskoveri, juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih,giat dan sunguh-sungguh.

6. Balikan dan Penguatan

            Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari  B.F Skinner, kalau pada teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya ,maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responsnya. Siswa akan lebih bersemangat apabila menegetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil apalasi yang baik akan merupakan balikan yang menyenagkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Siswa belajar dengan sungguh-sungguh dan mendapatkan hal yag baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu akan mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Forat berupa sajian tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan, dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan.

7. Perbedaan Individual

            Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya. Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Sistem klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.

            Pembelajaran yang klasikal yang mengabaiakan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media intruksional akan membantu melayani perbedaan-perbedaan siswa dalam cara belajar. Usaha lain untuk memperbaiki pembelajaran klsikal adalah dengan memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan bagi siswa yang pandai, dan memberikan bimbingan bagi anak-anak yang kurang.

            Impikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tapak daam setiap kegiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Namun demikian, perilaku disadari bahwa implementasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tidak semuanya terwujud dala setiap proses pembelajaran.

a. Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar Bagi Siswa

             Siswa sebagai “primus motor” (motor utama) dalam kegiatan pembelajaran, dengan alasan apapun tidak dapat mengabaikan begitu saja adanya prinsip-prinsip belajar. Justru para siswa akan berhasil dalam pembelajaran, jika mereka menyadari implikasi prinsip-prinsip belajar terhadap diri mereka.

1. Perhatian dan Motivasi

            Siswa dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua rangsangan yang mengarah ke arah pencapaian tujuan belajar. Adanya tuntutan untuk selalu memberikan perhatian ini, menyebabkan siswa harus membangkitkan perhatiannya kepada segala pesan yang dipelajarinya.

            Sedangkan implikasi prinsip motivasi bagi siswa adalah disadarinya oleh siswa bahwa motivasi belajar yang ada pada diri mereka harus dibangkitkan dan engembangkan secara terus menerus. Untuk dapat membangkitkan dan mengembangkan motivasi belajar mereka secara terus menerus, siswa dapat melakukannya dengan menentukan/mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai, menanggapi secara positif pujian/dorongan dari orang lain, menentukan terget/sasaran penyelesaian tugas tugas belajar, dan perilaku sejenis lainnya.

2. Keaktifan

            Sebaga “primus motor” dalam kegiatan pembelajarn maupun kegiatan beljar, siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara efektif, pembelajar dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual, dan emosional. Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa berwujud perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, ingin tahu hasil dari suatu reaksi kimia, membuat karya tulis, membuat kliping, dan perilaku sejenis lainnya.

3. Keterlibatan Langsung/Berpengalaman

            Hal apapun yang dipelajari siswa, maka ia harus mepelajarinya sendiri. Tidak ada seorang pun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya (Devies, 1987: 32). Pernyataan ini secara mutlakmenuntut adanya keterlibatan langsung dari setiap siswa dalam kegiatan belajar pembelajaran. Implikasi prinsip ini dituntut pada para siswa agar tidak segan-segan mengerjakan segala tugas belajar yang diberikan kepada mereka. Dan keterlibatan langsung ini, secara logis akan menyebabkan mereka memperoleh pengalaman atau berpengalaman. Bentuk-bentuk perilaku yang merupakan implikasi prinsip keterlibatan langsung bagi siswa misalnya adalah siswa ikut dalam pembuatan lapangan bola voli, siswa membaca puisi didepan kelas, dan perilaku sejenis lainnya.

4. Pengulangan

            Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti (Devies, 1987: 32). Dari pernyataan inilah pengulangan masih diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Implikasi adanya prinsip pengulangan bagi siswa adalah kesadaran siswa untuk bersedia mengerjakan latihan-latihan yang untuk satu macam permasalahan. Dengan kesadaran ini, diharapkan siswa tidak merasa bosan dalam melakukan pengulangan. Bentuk-bentuk perilaku pembelajaran yang merupakan implikasi prinsip pengulangan, diantaranya menghafal unsur-unsur kimia setiap valensi, mengerjakan soal-soal latihan, menghafa nama-nama latin tumbuhan, atau menghafal tahun-tahun terjadinya peristiwa sejarah.

5. Tantangan

            Prinsip belajar ini bersesuaian dengan pernyataan bahwa apabila siswa deberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia akan lebih termotivasi untuk belajar, ia akan belajar dan mengingat seacara lebih baik (Devies, 1987: 32). Hal ini berarti selalu menghadapi tantangan untuk memperoleh, memproses, dan mengolah setiap pesan yang ada dalam kegiatan pembelajaran. Bentuk-bentuk perilaku siswa yang merupakan implikasi dari prinsip tantangan ini diantaranya adalah melakukan eksperimen, melaksanakan tugas terbimbing maupun mandiri, atau mencari tahu peecahan suatu masalah.

6. Balikan dan Penguatan

            Siswa selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan, apakah benar atau salah? Dengan demikian siswa akan selalu memiliki pengetahuan tentang hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan penguat (reinforce) bagi dirinya sendiri. Seorang siswa belajar lebih banyak bilaman setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcemen) ( Devies, 1987: 32). Hal ini timbul karena kesadaran adanya kebutuhn untuk memproleh balikan dan sekaligus penguatan bagi setiap kegiatan yang dilakukannya. Untuk memperoleh balikan penguatan bentuk-bentuk perilaku siswa yang memungkinkan di antaranya adalah dengan segera mencocokan jawaban dengan kunci jawaban, menerima kenyataan terhadap skor yang dicapai, atau menerima teguran dari guru/orang tua karena hasil belajar yang jelek.

7. Perbedaan Individual

            Setiap siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang lain. Karena hal inilah, setiap siswa belajar menurut tempo (kecepatan)nya sendiri untuk setiap kelompok umur terdapat variasi kecepatan belajar(Devies, 1987: 32). Kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan orang lain, akan membantu siswa menentukan cara belajar dan sasaran belajar bagi dirinya sendiri. Implikasi adanya prinsip perbedaan individal bagi siswa di antaranya adalah menentukan tempat duduk di kelas, menyusun jadwal belajar, atau memilih bahwa implikasi adanya prinsip perbedaan individu bagi siswa dapat beberapa perilaku fisik maupun psikis.
b. Implikasi Prinsip-prinsip Belajar bagi Guru

            Guru sebagai orang kedua dalam kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari adanya prinsip-prinsip belajar. Guru sebagai penyelenggara dan pengelola kegiatan pembelajaran terimplikasi oleh adanya prinsip-prinsip belajar ini. Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru tertampak pada rencana pembelajaran maupun pelaksanaan kegiatan pembelajarannya. Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru terwujud dalam perilaku fisik dan psikis mereka. Kesadaran adanya prinsip-prinsip belajar yang terwujud dalam perilaku guru, dapat diharapkan adanya peningkatan kualitas pembelajaran yang diselenggarakan.

1. Perhatian dan Motivasi

            Guru sejak merencanakan kegiatan pebelajaranya sudah memikirkan perilakunya terhadap siswa sehingga dapat menarik perhatian dan menimbulkan motivasi siswa dan tdak berhenti pada rencana pembelajarannya dalam pelaksanaan kegiatan pembelajarannya. Implikasi prinsip perhatian bagi guru tertampak pada perilaku-perilaku sebagai berikut :
1) Guru menggunakan metode secara bervariasi
2) Guru menggunakan media sesuia dengan tujuan belajar dan materi yang di ajarkan.
3) Guru menggunakan gaya bahasa yang tidak monoton.
4) Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan mebimbing (direction question)

            Sedangkan iplikasi prinsip motivasi bagi guru tertampak pada prilaku-perilaku yang di antaranya :
1) Memilih bahan ajar sesuai minat siswa
2) Menggunakan metode dan teknik mengajar yang disukai siswa.
3) Mengoreksi segera mungkin pekerjaan siswa dan sesegera mungkin memberitahukan hasilnya kepada siswa.
4) Memberikan pujian verbal atau non-verbal terhadap siswa yang memberikan respons terhadap pertanyaan yang sedang dipelajari siswa.
5) Memberitahukan nilai guna dari pelajaran yang sedang dipelajari.

2. Keaktifan

            Para guru memberikan kesempatan belajar kepada para siswa, memberikan peluang dilaksanakannya implikasi prinsip keaktifan bagi guru secara optimal. Peran guru mengorganisasikan kesempatan belajar bagi masing-masing siswa berarti mengubah peran guru dari bersifat didaktis menjadi lebih bersifat mengindividualis, yaitu menjamin bahwa setiap siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan di dalam kondisi yang ada (Sten, 1988: 224). Hal ini berarti pula bahwa kesempatan yang diberikan guru akan menuntut siswa selalu aktif mencari, memperoleh, dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat menimbulkan keaktifan belajar pada siswa, maka guru di antaranya dapat melaksanakan perilaku-perilaku berikut :
1) Menggunakan multimetode dan multimedia.
2) Memberikan tugas secara individual dan kelompok.
3) Memberikan kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam kelompok kelompok kecil (beranggota tidak lebih dari 3 orang).
4) Memberikan tugas ubtuk membaca bahan belajar, mencatat hal-hal yang kurang jelas.
5) Mengadakan tanya jawab dan diskusi

3. Keterlibatan Langsung / Berpengalaman

            Guru harus menyadari bahwa keaktifan membutuhkan keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan pembelajaran. Namun demikian, perlu diingat bahwa keterlibatan langsung secara fisik tidak menjamin keaktifan belajar. Untuk dapat melibatkan siswa secara fisik, mental, emosional, dan intelektual dalam kegiatan pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik isi pelajarn. Pelajarn sebagai implikasi prinsp keterlibatan langsung/berpengalaman diantaranya :
1) Merancang kegiatan pembelajaran yang lebih banyak pada pembelajaran individual dan kelompok kecil.
2) Mementingkan eksperimen langsung oleh siswa dibandingkan dengan demonstrasi.
3) Menggunakan media yang langsung digunakan oleh siswa.
4) Memberikan tugas kepada siswa untuk mempraktekkan gerakkan psikomotorik yang dicontohkan.
5) Melibatkan siswa mencari informasi/pesan dari sumber informasi diluar kelas atau luar sekolah.
6) Melibatkan siswa dalam merangkum atau menyimpulkan informasi pesan pembelajaran.

            Implikasi lain dari adanya prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman bagi guru adalah kemampuan guru untuk bertindak sebagai pengelolakegiatan pembelajaran yang mapu mengarahkan, membimbing, dan mendorong siswa ke arah tujuan pengajaran yang ditetapkan.

4. Pengulangan

            Implikasi prinsip pengulangan bagi guru adalah mampu memilihkan antara kegiatan pembelajaran yang berisi pesan yang membutuhkan pengulangan dengan yang tidak membutuhkan pengulangan. Hal ini perlu dimiliki oleh guru karena tidak semua pesan pembelajaran membutuhkan pengulangan. Pengulangan terutama dibutuhkan oleh pesan-pesan pembelajaran yang harus dihafalkan secara tetap tanpa ada kesalahan sedikit pun. Selain itu, pengulangan juga diperlukan terhadap pesan-pesan pembelajaran yang membutuhkan latihan. Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip pengulangan di antaranya :
1) merancang pelaksanaan pengulangan.
2) Mengembangkan/merumuskan soal-soal latihan.
3) Mengembangkan petunjuk kegiatan psikomotorik yaitu harus diulang.
4) Mengembangkan alat evaluasi kegiatan pengulangan, dan
5) Membuat kegiatan pengulangan yang bervariasi.

5. Tantangan

            Apabila guru menginginkan siswa selalu berusaha mencapai tujuan, maka guru harus memberikan tantangan pada siswa dalam kegiatan pembelajarannya. Tantangan dalam kegiatan pembelajaran dapat diwujudkan oleh guru melalui bentuk kegiatan, bahan, dan alat pembelajaran yang dipilih untuk kegiatan pembelajaran. Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip tantangan di antaranya :
1) Merancang dan mengelola kegiatan eksperimen yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukannya secara individual atau dalam kelompok kecil (3-4 orang).
2) Memberikan tugas pada siswa memecahkan masalah yang membutuhkan informasi dari orang lain dari luar sekolah sebagai sumber informasi.
3) Menugaskan kepada siswa untuk menyimpulkan isi pelajaran yang selesai disajikan.
4) Mengembangkan bahan pelajaran (teks, hand out, modul, dan yang lain) yang memperhatikan kebutuhan siswa untuk mendapatkan tantangan didalamnya, sehingga tidak harus semua pesan pembelajaran disajikan secara detail tanpa memberikan kesempatan siswa mencari dari sumber lain.
5) Membimbing siswa untuk menemukan fakta, konsep, prinsip, dan generalisasi sendiri.
6) Guru merancang dan mengelola kegatan diskusi untuk menyelenggaraan masalah-masalah yang disajikan dalam topik diskusi.

6. Balikan dan Penguatan

            Balikan dapat diberikan secara lisan maupun tertulis, baik secara individual ataupun kelompok klasikal. Guru sebagai penyelenggara kegiatan pembelajaran harus dapat menentukan bentuk, cara, serta kapan balikan dan penguatan diberikan. Agar balikan dan penguatan bermakna bagi siswa, guru hendaknya memperhatikan karakteristik siswa. Implikasi prinsip balikan dan penguatan bagi guru, berwujud perilaku-perilaku di antaranya :
1) Memberitahukan jawaban yang benar setiap kali mengajukan pertanyaan yang telah dijawab siswa secara benar ataupun salah.
2) Mengoreksi pembahasan pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa pada waktu yang telah ditentukan.
3) Memberikan catatan-catatan pada hasil kerja siswa (berupa makalah, laporan, kliping pekerjaan rumah), berdasarkan hasil koreksi guru terhadap hasil kerja pembelajaran.
4) Membagikan lembar jawaban tes pelajaran yang telah dikoreksi oleh guru, disertai skor dan catatan-catatan bagi pebelajar.
5) Mengumumkan atau mengkonfirmasikan peringkat yang diraih setiap siswa berdasarkan skor yang dicapai dalam tes.
6) Meberikan anggukan atau acungan jempol atau isyarat lain kepada siswa yang menjawab dengan benar pertanyaan yang disajikan guru.
7) Memberikan hadiah kepada siswa yang berhasil menyelesaikan tugas.

7. Perbedaan Individual

            Setiap guru tentunya harus menyadari bahwa menghadapi 30 siswa dalam satu kelas, berarti menghadapi 30 macam keunikan atau karakteristik. Selain karakteristik kelas, guru harus menghadapi 30 siswa yang berbeda karakteristiknya satu dengan yang lainnya. Guru sebagai penyelenggara kegiatan pembelajarn dituntut untuk memberikan perhatian kepada semua keunikan yang melekat pada tiap siswa. Dengan kata lain ,guru tidak mengasumsikan bahwa siswa dalam kegiatan pembelajaran yang diselenggarakannya merupakan satu kesatuan yang memiliki karakteristik yang sama. Konsekuensi yang logis adanya hal ini, guru mampu melayani setiap siswa sesuai karakteristik mereka orang per orang. Implikasi prinsip perbedaan individual bagi guru berwujud perilaku-perilaku yang di antaranya :
1) Menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan dapat melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya.
2) Merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyajikan pesan pembelajaran.
3) Mengenali karakteristik setiap siswa sehingga dapat menentukan perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan, dan
4) Memberikan remediasi ataupun pertanyaan kepada siswa yang membutuhkan.

            Dari prinsip-prinsip belajar yang berimplikasi bagi siswa ataupun guru, dalam satu kegiatan yang dilakukan siswa maupun guru, dapat menemukan perwujudan dari prinsip-prinsip belajar lebih dari satu. Kenyataan bahwa dalam satu kegiatan pembelajaran terdapat lebih dari satu prinsip belajar yang tampak, menuntut guru untuk benar-benar menguasai dan terlebih menandai perwujudan prinsip-prinsip belajar dalam kegiatan pembelajaran.
























DAFTAR PUSTAKA

Davies, Ivor K. (penerjemah: Sudarsono S.,dkk.). 1987. Pengelolaan
Belajar. Jakarta : C.V. Rajawali dan PAUT-UT.

Gage, N.L.,dan David C.Berliner. 1984. Educational Psychology.
            Chicago: Rand Mc Nally Collage Publushing Company.

Gredler, Margaret E. Bell. (penerjemah Munandir). 1991. Belajar dan
            Membelajarkan. Jakarta: C.V Rajawali dan PAU-UT.

Petri, Herbert L..1986. Motivation: Theory and Research. Belmong,
            California: Wadsworth Publishing Company.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar